BayuPinasthika
Bayu Pinasthika
10 Sep 2008

Tak Kutemukan Kebijaksanaan Cinta

Waktu kuhabiskan dalam dekapan diam, hanya ada air mata yang senantiasa menemani kehidupanku. Pandangan kulayangkan dalam wajah kekasih yang telah memberiku pelajaran tentang makna hidup dan cinta. Berapa lama harus kusaksikan dan tetap merasakan kepedihan dengan kekasih yang telah begitu sempurna menelantarkan dan menghakimi jiwa ini. Hingga lama waktu berlalu, aku tak merasakan dimana letaknya ketulusan cinta sang kekasih dalam dekapan yang amat nyata. Ini bukanlah simponi atau puisi yang selalu ku buat tatkala malam datang dan menghantarkanku dalam pembaringan.

Telah banyak simponi dan puisi yang kuciptakan dan tertanam dalam jiwa. Namun aku tetap meradang dan berduka tatkala kekasih sekilas datang menghampiri lalu bertukar bayang seadanya dan itu semakin menyakitkan perasaanku yang benar-benar sakit. Mengapa aku harus jatuh cinta berkali-kali pada wajah yang salah dan semua memutuskan jalan pikiran yang aku rasakan.

Waktu kembali berlalu dan aku masih sendiri dengan diam. Masih kurasakan rindu walau seribu rentetan luka masih memar dan menusuk jiwa ini. Aku mengenal dia yang muda dan kurang bijaksana sehingga tak pernah kutemukan kebijaksanaan cinta. Namun aku masih tetap berdiri menunggu kekasih dan berharap akan datang kebijaksanaan cinta. Bukan cinta yang biasa tapi cinta yang mengedepankan makna sebab makna akan menyapa jiwa dengan kearifan dan kebijaksanaan. Makna akan tau hakikat dan fitrah dari cinta itu sendiri. Aku berharap waktu memberikan keadilan dan kebijaksanaan cinta, bukan dengan dia tapi dengan mereka yang di dalam jiwanya tumbuh perasaan cinta dan bermahkotakan ketulusan serta keagungan cinta.

Kasihku, aku akan datang dengan bendera putih di punggungku namun bukan untuk merayu atau berlaga sendu. Aku masih tetap merindu dan aku berharap kamu tidak akan merubah cintaku jadi layu seperti sekuntum bunga yang hendak melumpuhkan jala-jala keindahan ketika musim telah berguguran. Kasihku, jangan biarkan aku patah karena terlalu mencintaimu meski jarak begitu jauh dan waktu begitu berbeda.

Dan disini aku masih sendiri dan tangan bergetar saat mengusap air mataku yang jatuh berkaitan dengan luka hatiku. Aku yang merindu dan mencintaimu, sementara air mata tetap jatuh di pipiku dan tak berhenti mengalir. Sementara lisanku pun terkunci dan tak sepatah kata yang keluar dari mulut ini. Yang ada hanya bayangan wajah kekasih yang masih singgah berdiri di dalam relung pikiranku yang tak mau beranjak pergi dan tetap berdiri meski malam telah begitu sunyi.

%d blogger menyukai ini: