BayuPinasthika
Bayu Pinasthika
31 Okt 2020

Kecewa dan Percaya

Dulu aku pernah berdoa, Tuhan aku mau dia boleh? Lalu Tuhan berikan dia untukku. Ya, aku bahagia sekali waktu itu. Sampai akhirnya aku bertemu dengan rasa kecewa. Berkali-kali dia menyakiti hatiku, berkali-kali dia mengkhianati setiaku dan berkali-kali dia membuatku meneteskan air mata.

Tetapi tetap saja dengan egoisku, aku tidak ingin merubah doaku. Aku tetap ingin dia, dan besar harapanku pada dia semakin banyak pula yang Tuhan tunjukkan untukku. Aku semakin marah, benci dan kecewa. Dan aku semakin meledak ketika dia harus pergi meninggalkanku. Aku marah dan sangat marah.

Lalu aku bertanya, sebenarnya apa yang diinginkan Tuhan? Aku menjadi merasa untuk memaksa Tuhan menuruti mauku. Segala sesuatunya harus terjadi sesuai keinginanku, mauku, waktuku, kehendakku.

Banyak yang telah aku lalui, banyak yang telah aku tangisi. Karena itulah aku terlalu lelah, terlalu rapuh, terlalu mudah untuk jatuh. Banyak yang tak sesuai dengan kehendakku, banyak tanya yang megudara kenapa harus begini, kenapa harus begitu, kenapa tidak sekarang, kenapa harus sekarang, kenapa harus dia, kenapa bukan yang lain? Lalu hati menjadi khawatir saat skenarionya tidak berjalan sesuai seperti yang aku pikirkan. Lalu aku mulai mempertanyakan Tuhan.

Kini, waktu memberikanku jawaban atas semuanya. Tuhan seolah ingin memberitahukanku tentang arti hidup. Lalu aku mengubah doaku. Tuhan, aku siap dibentuk dan jadikanlah aku sesuai kehendak-Mu dan bukan kehendakku.

Aku sadar, Tuhan tidak memintaku untuk menyerah, tapi berserah. Karena ketika aku terlalu berharap kepada manusia, maka aku akan selalu dibayangi kekecewaan.

Aku memang sudah melewati banyak, aku memang lelah, aku memang lemah. Tapi bukan berarti aku harus putar balik dan menetap disana, bukan berarti aku harus lari ditempat, bukan berarti aku harus mengakhiri dan cari jalur yang lebih terlihat mudah, bukan berarti aku harus berhenti.

Bukankah Tuhan telah membawaku sejauh ini bukan untuk hal yang sia-sia? Bukankan disebuah perjalanan yang panjang ini ada begitu banyak pelajaran yang sedang Tuhan berikan? Tak sadarkah bahwa apa yang aku alami bukanlah suatu hal yang kebetulan?

Percayalah pada Tuhan sekalipun seisi dunia tak dapat dipercaya. Berharaplah sekalipun tidak ada dasar untuk berharap. Teruslah berdoa, sekalipun matamu tak menemukan jawaban. Lakukanlah apa yang benar dimata Tuhan, bukan yang disenangi dunia. Sekalipun hati terasa remuk, aku percaya bahwa aku sedang Tuhan bentuk. Sekalipun banyak perkara yang sukar, aku diminta untuk tetap tegar.

Segalanya akan baik-baik saja. Ada banyak hal yang bisa aku syukuri dari sebuah detak dan detik.